Wednesday, January 03, 2007

Minggu Pertama di Bulan Januari

Empat hari libur yang dinanti-nantikan semua orang, akhirnya resmi berakhir. 2 Januari dijadikan hari libur soalnya Idul Adha jatuh pada hari Minggu, trus Senennya emang udah libur, jadi digantiin ke Selasa. Awal November, waktu gue sadar kalo kita ternyata bisa make kesempatan libur tanpa ambil leave, ternyata semua tujuan favorit udah penuh dan tiket pesawat udah pada abis. Siapa bilang orang sini gak tau cara bersenang-senang?

Tahun Baru, gak banyak acara special. Lagian menurut gue, menurut gue nih, pergantian tahun emang highlightnya ya count down sepuluh detik itu, laen ama Imlek atau Lebaran yang lebih banyak ‘konsep’ dan acara. Nonton firework juga mendingan dari teve, hahaha, kayaknya itu gejala mulai-mulai berpikiran seperti orang tua, tapi emang, kita gak terlalu suka keramaian, dan count down, ramenya gila-gilaan.

Hari Jumat, sebelom pembukaan libur panjang, boss gue ngadain House Warming cum New Year party di rumahnya. Untungnya dia gak ngundang ‘orang-orang penting’ di kantor, jadi kita bisa have fun tanpa kena merinding-merinding karena harus rebutan makanan ama big boss. Boss gue sendiri ini emang dulu bekas teman kerja, dan dia orangnya bisa membaur dan down to earth, trus rumahnya ada dua doggie lucu, jadi kali ini gue dateng deh, gak enak juga gue udah beberapa kali gak pernah dateng ke pestanya. Pestanya BBQ, karena gue males duduk dimeja dengan beberapa kunyuk yang isi obrolannya kerjaan mulu, jadi mendingan gue ikutan bakar2 sekalian nyumbang bikinin apa yang udah gue makan sebelomnya.

Untuk hari-hari libur laen, selaen kemaren, kita banyakan dirumah, berleha-leha dan bersantai-santai : ). Ada sih spesial dinner dan lunch, dan pas malam tahun barunya sempet ke kota tapi cabut sebelum jam sebelas buat menghindari keramaian. Waktu itu gak berasa tahun baru banget, soalnya semua orang bekerja seperti biasa, tukang minuman, tukang makanan, cuman bedanya disana-sini ada aja grup remaja yang lagi bersiap-siap buat count down party.

Kemaren, kita pergi sailing dengan Leo, Willy dan satu teman lagi yang baru kita kenal, cewek, Meiling, baru 19 tahun, tapi udah jagoan sailing. Kita ngumpul jam dua belas di teminal bus dan habis itu naek bis lagi ke sailing clubnya. Ternyata, kita punya banyak logistik, dari minuman, bacang, kerupuk, apel, jeruk ama bihun goreng buat makan siang dan tea break. Rencana kita, berlayar ke Frog Island, satu pulau yang ada batu berbentuk kodok gede lagi nangkring (kalo dipikir2, kapan ya kodok gak nangkring?), piknik dan balik lagi.

Nyampe di club, kita nyante-nyante dan duduk-duduk karena angin gak cukup kencang buat berlayar. Setelah duduk beberapa saat, kita gak tahan dan mulai ngabishin bihun, kemudian bersantai-santai lagi. Enak banget melihat laut dan langit bebas lagi. Suasananya santai dan angin sepoi-sepoi bikin kita merem melek. Syooook.

Setelah beberapa saat, angin udah mulai bertiup, jadi kita bersiap-siap dan make baju renang didalam baju biasa, dan make booties. Trus kita mulai gear up setelah Leo dan Meiling keleng beleng bawa2 layar, tali-tali dan tiang-tiang layar. Kita bakal memakai dua perahu, tipe 420 dan Laser Pico, isi 3 dan 2 orang. Willy harus pake semacam ‘celana besi’ buat gelantungan pas berdiri dan rebahan disisi kapal. Cowok2 dikapal 420 dan cewek2 di kapal satunya. Setelah pasang memasang, kita menggeret kapalnya ke laut dan mulai berlayar.

Angin tidak begitu kencang, tapi lumayan. Buat laser, penumpang gak usah ngapa2in, selaen naik turunin papan ditengah pas dasar laut dalam ataupun dangkal, atau mindah2 badan buat menyeimbangkan kapal, selaen itu cuman perlu nyante2 dan look pretty. Kapal berangkat dengan kecepatan sedang dan untuk beberapa lama, jarak antara dua kapal cukup stabil. 420 lebih kencang karena mempunyai dua layar, tapi kerugiannya, mereka gak selincah dan seringan Pico. Setelah kita deket ke Frog Island, angin mulai berhenti bertiup. Kita cuman kanan kiri atau mundur ditempat, selaen tidak ada angin, arus juga lumayan kencang. Untuk beberapa saat kita gak bisa ngapa2in walaupun udah pake cara manual, mendayung pake tangan.

Air laut coklat tua dan gelap, sama sekali gak bisa melihat apa-apa, kecuali pas dipermukaan ada ikan gala besar atau ikan kecil dan loncat-loncat, dan sekali gue liat sesuatu yang panjang dan garis-garis, seperti tekstur sea snake, ngintip bentar ke permukaan, tapi selain itu, air laut sini cukup mengerikan, walaupun kita sempat berpikir untuk diving di Singapore berhubung Malaysia lagi musim badai, gak diwujudkan deh. Kalau ampe kapalnya kebalik aja, gue ngeri harus menelan air laut aneh begitu. Hm, hm, tapi bagaimanapun, laut tetap laut, basah tetap asik. Sekali kita dilewati satu perahu motor, dan tau-tau banyak sampah disekitar kita, sementara kita stuck gak bisa bergerak. Untunglah kita berdua temen baru nyambung-nyambung aja dan rata-rata hobi-hobinya sama semua, jadi not bad at all. Frog Island keliatannya dekat banget tapi tak terjangkau, akhirnya kita memutuskan untuk balik, setelah komunikasi ala barbar sama kapal satunya, tereak-tereak. Angin bertiup ke arah main island dan selaen itu kontroler kapal 420 patah. Pas kita udah mendarat, angin bertiup kencang, ternyata kita semua sependapat, coba lagi, kapal cowok2 memang bertekad begitu dari semula, jadi mereka mampir untuk mengambil kontroler baru (betewe, kedengarannya jelek soalnya gue lupa istilah buat pengontrol kapal).

Gue megangin kapal sementara Meiling ikutan menginspeksi kapal satunya. Laser kita agak ditengah, tapi air laut cuman sepaha, tapi berasa banget kakinya mendam dilumpur yang cukup iyuh. Setelah beberapa saat, gue join 420, soalnya Willy pengen nyobain naik Pico. Begitu berangkat, waw, kali ini baru asik, anginnya kencang dan kita sempat sibuk banget, mindahin layar ke kanan ke kiri, kapal oleng ampe mau kebalik jadi kita bertiga buru2 ke satu sisi dan mundur2in ampe pantat dan badan serebah-rebahan diluar. Padahal disaat-saat seperti itu celana besinya si Willy berguna banget, dia bisa ngerasain ngestunt main sirkus-sirkusan. Sekali gue kejedot tiang kapal saking sibuknya narik2 layar dan bunyinya BONG. Tapi gak sakit-gak sakit-wee.

Beberapa kali kita deket sama Pico dan sekali sempet sengaja tabrakan kecil-kecilan, tapi banyakan kita cukup jauh. Begitu dekat Frog Island, kali ini kita dateng dari sisi satunya, angin berhenti lagi, tapi masih ada sepoi-sepoi, jadi pelan2 kita zig zag sana sini dan perlahan tapi pasti, kita mendarat. Sampai dipulau, yang pertama kita lakukan, makan bacang! Bacang gak pernah berasa lebih enak. Pico masih jauh dihorison, sepertinya angin berhenti. Kita menunggu beberapa saat, sambil ngobrol juga sama salah satu kapal penangkap kerang yang parkir dekat kita.

Frog Island mempunyai pasir merah bata kasar, bercampur dengan tulang tulangan coral, dibagian lain dari pulau kecil itu ada batu-batu besar dan salah satu batunya ya sikodok, yang walaupun kita setuju lebih mirip beruang kutub. (Nama asli pulau ini katanya Sibuku Island) Di sisi lainnya ada dataran yang jadi hijau soalnya penuh dengan ganggang, kelihatan cuman kalau air surut, kalau air pasang, yang kelihatan cuman batu-batu. (Kok pasirnya gak hanyut ya kalau pasang). Air sekitar pulau mendingan, kita masih bisa melihat dasarnya dan gak banyak lumpur.

Agak lama, akhirnya Willy dan Meiling berhasil mendarat disisi ganggang. Mereka harus menyeret perahunya ke tempat kita, begitu nyampe, perahunya ditinggal dan mereka lari menyambut bacang. Kita juga buka2 kerupuk dan makan buah.

Berhubung kita udah dilaut tiga jam lebih, dan langit mulai gelap karena badai akan datang, kita pun langsung balik. Kali ini kaptennya gantian, Leo ambil Pico berdua Hubby dan Willy jadi raja diantara cewek-cewek di 420. Angin start cukup pelan, disatu tempat kita harus dayung manual lagi, tapi gak terlalu stuck, pas mendekati pulau, anginnya jadi kencang, dan Leo cerita Pico mereka sempet nyilem bagian depannya, jadi mereka berdua buru2 berat2in bagian belakang kapal biar gak kebalik. Pas kita lagi ngeringin air didalam 420 dipantai sebelom digeret balik ke atas, angin bertiup kencang banget sehingga gue yakin kalo mau dalam setengah jam kita bisa ke Frog Island dan balik lagi. : )

Habis geret2 perahu dari pantai ke pavement, kita bersih2, nyemprot2 besi dan layar. Sambil nunggu layar agak kering kita mencuci booties yang penuh dengan pasir, kadang2 jiwa kekanak-kanakan kita gak terbendung dan perang2an saling menyemprot air. Setelah itu gulung2 layar, beres2in tiang dan tali-tali, and nyemprot life jacket, trus geret2 perahu lagi ke tempat parkir perahunya, kemudian semuanya jogrok ditepi kolam renang sambil cerita-cerita dan ngabishin semua bekal yang masih ada. Ngeliatin laut, ngeliatin kapal dan langit. Sekali lagi, Syoooook.

Kalau hujan badai gak tiba-tiba mengguyur, kita mungkin gak bergerak-gerak. Akhirnya malah kocar-kacir karena hujan gede turun tiba2. Jadi kita mandi dan habis itu makan malam di club. Gile bener, karena clubnya cukup ramai malam itu, dinner kita gak dateng2 ampe sejam-an, begitu dateng, katanya nasi cuman ada tiga, lagi dimasak. Jadi kita harus share dulu, agak lama juga, nasi baru dateng lagi. Tapi makan malamnya lezzzat.

Hujan gede sempet berhenti, begitu kita kelar makan, hujan lagi, jadi kita duduk2 di bar dulu, begitu pesen minum, hujan berenti, begitu minum abis, hujan turun lagi, begitu terus, akhirnya kita bisa pulang juga, dan untung banget nunggu bisnya cepet, begitu pula bis yang langsung nyampe rumah.

Wet day is happy day. ; )

P.S : ~Syooook itu bahasa prokem sini, artinya kira2 uasyieeeek buangeeeet.~


_______________________________________________________________________________

I know only that moral is what you feel good after and what is immoral is what you feel bad after.
- Ernest Miller Hemingway

For my part, I travel to go to anywhere, but to go. I travel for travel’s sake. The great affair is to move.
- Robert Louis Stevenson

I'd much rather be a woman than a man. Women can cry, they can wear cute clothes, and they are the first to be rescued off of sinking ships.
- Gilda Radner